Salman Al-Farisi, seorang pemuda tampan dari Paris tengah bergejolak hatinya. Pemuda yang hijrah ke Madinah ini telah menambatkan hatinya pada seorang gadis pribumi yang lembut lagi baik perangainya. Salman tentu sadar betul, sebagai pendatang bukan hal mudah untuk mendapatkan istri yang merupakan penduduk asli. Madinah bukanlah tempat kelahirannya dan sudah tentu memiliki adat dan rasa bahasa yang berbeda. Dan ini bukan perkara yang mudah baginya. Tapi apa mau dikata, perasaan di dalam hatinya semakin bergejolak saja. Harus ada tindak lanjut dari perasaan ini atau ia akan terbunuh dalam kesendirian. Karena itu ia sampaikan niat ini kepada Abu Darda’, seorang sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya. “Subahanallah.....wal hamdulillah.....” begitulah jawaban Abu Darda’ ketika mendengar niatan sahabatnya. Setelah semua persiapan dirasa cukup, berangakatlah mereka ke salah satu rumah di sudut kota Madinah. Rumah seorang wanita shalihah dan bertaqwa. “Saya adalah Abu Da...