Surat Warna Warni
Ia selalu rajin menulis surat-surat itu. Ketika hatinya diliputi rindu, ketika kemarahan menyempil dalam hati, ketika seduri cemburu meremukkan hatinya sampi menjadi remah-remah roti, ia pasti akan menulis surat itu. Surat dengan gelora cinta yang menggebu. Tapi naas, surat itu tak pernah sekalipun mendarat di meja kantor pos, apalagi sampai pada alamat yang dituju. Surat-surat itu selalu berakhir di kolong ranjangnya yang berdebu dan dipenuhi serangga-serangga tak berbisa. Ketika sesekali ia membersihkan kolong ranjang, ia akan menumpuk surat itu dan membacanya kembali. Menemukan berbagai rasa seperti bumbu dapur yang membuat masakan begitu sedap. Kadangkala ia menangis sesenggukan sampai matanya sembab, di lain waktu ia akan tertawa sampai berguling-guling dan merasakan keram di perutnya. Kadang pula ia hanya memandangi surat itu dan menyebarnya...