Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

menggalau

“Kita berpisah saja.” Aku diam menunggu kalimat selanjutnya. Mungkin ada alasan kenapa ia ingin menghilang dari kisah cintaku yang baru beberapa lembar. Tiga bulan menjadi kekasihnya bukanlah waktu yang cukup lama. Lelaki tampan yang  penuh percaya diri itu telah menarikku begitu jauh sampai diluar batas kesadaranku. “Kita sudah tak cocok lagi.” Aku menghela nafas. Alasan yang cukup klasik untuk mengakhiri sebuah hubungan antara pria dan wanita. Cukup mengatakan satu kalimat itu dan tak butuh waktu lama semua akan kandas. Aku pun pernah mengatakan alasan serupa pada mantan kekasihku sebelumnya. “Baiklah, sejak awal kita memang sudah tak memiliki kecocokan. Hanya saja kita terlalu memaksa untuk saling cocok. Mau bagaimana lagi?” Monolog Jangan…jangan pergi…. Ah…kenapa aku mengatakan hal itu? Tidak, aku tidak menangis. Aku hanya kelilipan debu. Sungguh kau mengatakan lelucon yang tidak lucu. Tidak cocok lagi katamu?  Hah…..alasan yang kuno, klise. Apa...

somewhere

Sometimes I just want to be like this. Not to care about anyone or about everything they said. It is enough to see that knife hanging on your mouth.  Let me alone.  Let me stay in this silence. I want to see you break into pieces then I’ll hang you on the window. The howling wind will slap your face till you die. I know I shouldn’t do that, but you keep making me hurt in rage. Dear Sam, I’ll run across this darkish road. So I wont see your face or even your bloody shadow.

serupa hari Senin

Gambar
Rentetan abjad bertebaran dalam udara, bersatu menjadi kata, berjajar menjadi pagar-pagar kalimat. Mereka seperti hantu yang melayang-layang diantara tumpukan bata berlapiskan semen. Penat menghinggapi setiap wajah. Lelah. Rasanya aku ingin membungkus penat ini dan memasukan dalam galon, biar semua larut dalam cairan bening itu. Hm…mungkin hari ini lebih pantas diganti nama menjadi Senin. Si hari sibuk dan penuh kepenatan. 

berjumpa dengan senin (lagi)

Lagi-lagi ini sudah hari senin. Kebanyakan orang membenci hari senin, dan gue juga. Sebenarnya ga ada alasan khusus untuk membenci hari ini. Hanya karena kemaren itu libur dan sekarang harus kembali pada rutinitas yang itu………saja. Kasihan juga si Senin ini L kalo dia bisa ngomong, mungkin dia minta tukar posisi sama si Sabtu Ada lagi yang menyebutkan si Senin sebagai monster. MonDay = Mon ster Day . Nah….kasian banget kan si Senin ini. Lagi-lagi ia dipandang sebagai sesuatu yang menyeramkan, menciutkan hati. Mungkin aja sebenernya dia itu punya wajah paling kece diantara enam lainnya. Paling rapih, paling cakepe, pokoknya yang paling baik lah. Tapi kenapa senin ini tetap saja dibenci orang. Maafin gue Senin *pelukeratsisenin* Tapi setelah ngobrol ngalor ngidul tentang Senin, akhirnya gue nemuin beberapa orang yang mencintai Senin. Mereka menyebutnya sebagai Mon ey Day . Well, itu mengenai hari di awal minggu. Si senin yang kadang dipersalahkan tanpa alasan yang jelas.   ...

dongeng hujan

Pada suatu hari ketika malam hampir menuju pagi, hujan mulai turun dari langit. Dimulai saat langit mendatangkan awan hitam, kemudian disusul dengan gerimis yang turun satu persatu. Lalu gerimis itu secepatnya menjadi hujan. 

Sebuah Senja Tanpa Jingga

Kau mengucapkan kalimat perpisahan di suatu senja yang tak berwarna jingga. Ada gerimis yang menari bersama angin.  Payungmu terbuka lebar menghalau angin dan butiran bening yang melayang di udara. Hening menyapa kita, menciptakan senyap dalam kata. Kau tak pernah mengajariku tentang perpisahan. Yang kutahu hanya sebuah sapa seperti hello, hai atau sekedar apa kabar. Lalu bagaimana aku memahami selamat tinggal yang barusan kau ucap? Aku tak terlalu pandai, kau tahu itu. Karena itu perlu waktu lama untuk mempercayai bahwa kau akan mundur dari kehidupanku. Ah, biasanya malam minggu tak sedingin ini. Harusnya kita ada di coffee shop pinggir jalan itu sambil memperdebatkan tim sepak bola kesayangan kita. Aku yang selalu setia dengan Liverpool dan kamu yang mati-matian membela MU. Seperti yang kau inginkan, kita berpisah dalam senja. Tapi aku akan tetap mencintai senja meski ia tanpa jingga.

Cappuccino Dan Lelaki Yang Diantar Hujan

            Langit senja mendadak  kelabu. Dalam sekejap angin datang dan melesak ke sela-sela kain yang membungkus tubuhku. Menghadirkan hawa dingin yang membuat sebagian orang tak mau berlama lama di luar ruangan. Akupun tak mau ketinggalan, sebelum gerimis berkembang menjadi hujan lebih dulu kulangkahkan kakiku ke sebuah kedai kopi yang paling dekat.               Dari tempat ini aku bisa melihat gerimis itu telah berubah menjadi hujan seluruhnya. Di sebuah meja kecil dengan dua kursi di samping jendela yang menghadap keluar. Jalanan itu masih saja ramai. Bahkan ketika hujan. Mobil dan motor melaju dengan kecepatan tinggi, seakan berlomba dengan sesuatu yang tak terlihat, angin. Sepasang muda mudi berlarian sambil bergandengan, menuju emperan toko untuk berteduh. Tubuh mereka menggigil tapi seulas senyum tersemat di bibir. Mereka telah menemukan kebahagiaan ya...

Deskripsi Cantik

Gambar
Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cantik yang merupakan kata sifat dideskripsikan sebagai sesuatu yang elok, molek tentang wajah atau muka perempuan. Tapi dalam pandangan manusia deskripsi cantik menjadi lebih kompleks lagi. Bukan hanya sebatas satu kalimat. Setiap individu bahkan merepresntasikan kata cantik dalam banyak arti. Kata orang cantik itu relatif, tak ada suatu ukuran pasti untuk menentukan seseorang itu cantik atau tidak. Apakah yang berkulit putih selembut salju, bermata sayu, berhidung mancung, berambut hitam lurus atau tinggi semampai dan ramping? Rasanya tidak adil sekali jika kita mengatakan seseorang cantik hanya karena parameter itu. Memang secara fisik wanita dengan kriteria tersebut terlihat menarik. Tapi bagaimana dengan hatinya? Banyak yang bilang wanita itu tidak hanya dilihat dari kecantikan wajahnya, tapi juga kecantikan hati atau inner beauty . Bagaimana kita melihat seorang wanita memiliki kecantikan hati? Apakah dari tutur kata dan cara ia ...