FF/B2ST/Finally Found You


Tittle                        : Finally found you
Author                    : Alinyeobos26
Main cast               : Lee Kikwang, Yoon Doojoon
Other cast            :Yang Yoseob, Son Dongwoon, Yong Junhyung, Jang Hyunseung, Lee Jihyun
Genre                      : Family, brothership
Length                     : Oneshoot
All the character inside is belong to themselves. I just own the story
Happy reading... ^_^   
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Hmmhh.... lee Kikwang.. aku tak tau lagi apa yang harus kukatakan padamu.” Laki-laki di hadapanku itu menggeleng pelan menghela nafas pelan, nafasnya terdengar sangat berat. “Kenapa kau melakukan hal itu lagi ? Bukankah kau sendiri yang sudah berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi kenapa kau masih saja mengulanginya ? Kenapa kau diam saja Kikwang ? Bisakah kau menjelaskannya padaku ?”
Aku tertunduk diam. Lagipula tak ada gunanya lagi aku bicara di sini.
“baiklah... tapi sayangnya kali ini aku tak bisa menolongmu lagi. Sekolah sudah memutuskan bahwa kau di skors selama seminggu.” Yoon songsaenim menutup buku di hadapannya agak keras.
“Mwoya ?” jawabku sedikit terkejut.
“Ya..itu sudah keputusan sekolah, aku sudah berusaha meminta agar kau di beri keringanan. Tapi mereka bilang tidak bisa.”
******
Aku terus berjalan sambil menendang kerikil yang menghalalngi jalanku. Ah, apa yang harus kukatakan pada Eomma nanti. Eomma pasti akan sedih jika tau aku diskors gara-gara berkelahi.
“Arrgghh......” Kugaruk kepalaku yang tidak gatal. Ini semua gara-gara Junhyung.
~FLASHBACK~
“Brakkk...........!!!” Kudengar suara orang dipukul ketika aku melewati gudang. Aku segera berbalik dan mengawasi dari balik pintu yang tertutup.
“Jadi kau tetap tidak mau menyerah hah ? Bukankah sudah kukatakan padamu untuk menjauhi Seohyun, tapi kenapa kau masih saja mendekatinya. Apa kau mau mati ?” Kulihat Junhyung mencengkeram kerah Dongwoon dan memojokannya di tembok.  Hyunseung berdiri di belakang Junhyung sambil menaruh kedua tangan di sakunya.
“Ak..aku..tidak...” Dongwoon sudah terlihat pasrah wajahnya lebam, darah keluar dari hidung dan ujung bibirnya.
“Brukk...!!!” Junhyung memukulnya sekali lagi sampai Doongwoon terjatuh.
Keadaan di luar sepi, jika aku pergi mencari bantuan pasti mereka akan semakin menganianya Doongwoon.
Aku mendorong pintu secara kasar, membuat mereka menoleh kearahku. “Brukk..!!!” Aku langsung memukul Hyunseung dan sukses membuatnya terjatuh. Kemudian aku menarik tangan Junhyung dan memukulnya.
Junhyung yang tidak siap menerima pukulanku pun terjatuh, sementara aku langsung berlari untuk membantu Dongwoon.
“Heh... rupanya ada yang ingin jadi pahlawan disini..” kata Junhyung sinis. Dia menghapus darah di ujung bibirnya.
“Pengecut...!!!” Jawabku tak kalah sengitnya. “
“Brukk...!!” Hyuseung tiba-tiba memukulku. Perkelahian ini tak bisa lagi kuhindari Junghyung juga ikut memukulku, aku mencoba melawan dengan menendang mereka berdua. Tapi aku kalah jumlah sehingga mereka bisa menghajarku dengan mudah.
“Hei hei cukup hentikaaan.....................!!!!!!!!!!!!!” Yoon songsaenim berjalan kearah kami diikuti Yoseob di belakangnya.
“Sekarang kalian berempat ikut ke ruang guru...!!!”
~FLASHBACK END~
“Apa yang akan  kau katakan pada eomma mu nanti ?” tanya Yoseob sambil melepas helm dari kepalanya.
‘Hahhh mollayo...” jawabku pasrah. “Baiklah aku pergi dulu.” Kunyalakan motorku dan  mengawasi keadaan jalan di sekitarku.
“Tapi kau akan langsung pulang kan ?” Yoseob berbalik sebelum mencapai pintu rumahnya.  Aku hanya mengangguk sambil mengacungkan jempolku sebelum akhirnya melesat di jalan ramai kota Seoul.
******

Apa yang harus kukatakan pada eomma nanti ? Aku membuka pintu rumah dengan pelan. Pasti eomma akan sangat marah padaku. “Ahhh....!!!” kaucak-acak rambut di kepalaku.
“Aku pulang.....” kulepas sepatuku dan meletakannya di rak paling atas. Kulihat sepatu eomma yang tadi pagi di pakai sudah tertata rapi. Itu artinya eomma sudah pualng dari kantor. Padahal aku harap eomma pulang sedikit telat hari ini. “Eommaaa.....”  seruku lagi sambil mencari ke ruang tamu dan dapur. Tapi nihil. “Kemana eomma ?” gumamku pelan. Terbersit sedikit kekawatiran di hatiku. Tapi  segera kutepis perasaan itu dan tersenyum simpul. “Bukankah ini kesempatan bagus ?” setidaknya aku tidak akan langsung di marahi eomma saat ini. Aku segera melesat  ke kamar kemudian membersiahkan semua luka di wajahku dan tidur.
I can't take my breath breath breath
 Sigani galsurok jeomjeom jinagalsurok oh nan deo
I can't hold my breath breath breath
Galsurok naneun deo jakkuman nae sumi makhyeo wa nae sumi yeah


“Yoboseyo....” Jawabku masih berbaring. Bagian dari lagu soom yang paling kusukai membangunkanku dari alam mimpi. Kugosok-gosok mataku dengan tangan yang satunya. Dan seger kuraih jam beker di meja samping tempat tidurku. Ah..rupanya aku tertidur cukup lama tadi. Dan aku masih memakai seragam lengkap.
“Eeee... Kikwang ssi ?” Kudengar suara di seberang telepon, aku agak asing dengan suara itu.
“Ne “ jawabku sekenanya “Nuguseyo ?” kulihat tak ada nama yang tertera di layar ponselku.
“Dongwoon..Son dongwoon. Aku ingin berterima kasih padamu karena kau sudah menolongku tadi.”
“Ne..aku tau ” Aku masih menjawabnya dengan nada datar karena nyawaku yang belum kumpul sepenuhnya.
“Aku juga minta maaf karena gara-gara aku kau sampai di skors selama seminggu ini.” Kudengar penyesalan dalam nada suaranya.
“Ah..gwenchanayo. Lagipula aku di skors itu bukan salahmu. Ini karena aku terlalu sering membuat ulah di sekolah.”
“Baiklah Kikwang ssi... sekali lagi terimakasih.” Aku menutup ponselku kemudian melemparkannya sembarangan di ranjangku. Aku berdiri dan berjalan ke arah cermin melihat bekas luka pukulan tadi.  Eomma pasti akan memarahiku nanti.
Setelah mengganti baju aku berjalan ke dapur mencari eomma. Aneh sekali, biasanya eomma selalu mengingatkanku untuk makan malam di jam segini. Tapi kali ini ia bahkan tidak membangunkanku. Aku berdiri di depan kamar Eomma dan bersiap untuk mengetuknya.
“Kikwang ????” Eomma menepuk pundakku pelan, aku pun refleks membalikan badanku dan tersenyum.
“Eomma dari mana saja ? Bukankah eomma sudah pulang dari tadi sore, tapi kenapa kucari-cari tidak ada ?”
“ Eomma dari taman, tadi eomma melihatmu tertidur di kamar dan sepertinya kau sangat kelelahan. Makanya eomma tidak tega membangunkanmu untuk makan malam.”
“ Ohh…” aku tersenyum lega.
“Kau berkelahi lagi ?” Eomma menyentuh daguku kemudian memutarnya ke kanan dan kiri.
“ Eeeee….in ini tadi aku terpeleset di kamar mandi eomma,,hehehe. Oya apa yang eomma lakukan di taman tadi ?” Aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
“Sudahlah jangan mengalihkan pembicaraan, biar eoma obati dulu luka di wajahmu itu.”
Aku mengikuti eomma ke kamarnya.
“ Aw sakit eomma..!” kuusap ujung bibirku yang lebam karena ulah Junhyung tadi siang
“ Dasar bandel, luka seperti ini saja kau sudah merengek. Kenapa masih berani berkelahi ? Eomma kan sudah melarangmu untuk berkelahi. Dan kau juga sudah berjanji. Tapi kenapa kau melanggar janjimu sendiri. Dengan siapa kau berkelahi tadi ? Apa dengan Junhyung lagi ?” Eomma menatapku dengan tatapan tajam. Ia sudah tau kalau aku sering berkelahi dengan Junhyung
“Jeongmal mianhae eomma. Aku sudah membuat eomma kecewa dan khawatir.” Kutundukkan kepalaku dalam-dalam.
“Gwenchana chagi, eomma cuma khawatir padamu. Ini tahun terakhirmu di sekolah, tapi kau belum juga mau merubah sifat malas dan bandelmu itu. Seharusnya kau bisa lebih serius dalam belajar. Kau tau, ini bukan lagi saatnya untuk bersenang-senang, tapi saat untuk menentukan masadepanmu nantinya. Mungkin sebaiknya eomma mencarikanmu guru prifat agar kau bisa lebih berkosentrasi. Bagaimana kwangie ?”
“ Ne eomma”
“ Kajja kitamakan malam dulu, kau pasti sudah sangat lapar. Eomma memasak nasi goreng kimchi kesukaanmu.” Eomma membereskan kotak obat yang sudah tidak dipakai lagi. Aku berjalan ke ruang makan dan eomma mengikutiku dari belakang. Melihat kesabaran eomma, aku jadi  tak tega mengatakan kalau aku di sekors selama seminggu karena perkelahianku dengan Junhyung .
*******

“Ayo bangun Kikwang...” eomma mengguncangkan badanku yang masih tertutup selimut. “Ayo cepat nanti kau terlambat.” Kini eomma sudah menarik selimut yang kukenakan.
“Aku tidak berangkat eomma kepalaku pusing.” Jawabku sedikit berbohong. Kukeluarkan suara selemah mungkin agar eomma yakin dengan aktingku. Ah..mana mungkin aku berangkat sekolah, aku kan di skors selama seminggu. Tapi aku belum siap untuk bicara jujur pada eomma.
“Baiklah, sebaiknya kau istirahat saja hari ini. Eomma sudah siapkan sarapan di meja.. tapi sepertinya eomma akan pulang agak malam karena ada rapat. Jadi kau bisa pesan untuk makan siang dan malammu kan ?” eomma membetulkan letak selimut yang tadi berantakan. Kemudian pergi setelah menutup pintu kamarku.
“Oia kwangie....” pintu di buka tiba-tiba. “eomma sudah mencarikan guru prifat untukmu, lesmu akan di mulai sore ini. Jadi kuharap kau datang ke rumahnya tepat waktu. ” Eomma kembali menutup pintu setelah memastikanku mengangguk tanda mengerti.
Dengan segera aku meraih ponsel dan mencari kontak bernama yoseob.
“Yoboseo....” kudengar jawaban Yoseob dari seberang.
“Kau belum berangkat kan ? aku ke sana sekarang.”
“Bukankah kau.....” belum sempat yoseob melanjutkan kalimatnya aku sudah menutup telponku dan berlari ke kamar mandi. Tekadku sudah bulat saat ini, aku akan membalas perbuatan Junhyung dan Hyunseung kemarin.
******

Kulajukan motorku dengan kecepatan tinggi, aku tak peduli betapa ramainya jala-jalan di kota Seoul ini. Aku hanya ingin menumpahkan kekesalanku saat ini. Satu-satu kusalip beberapa mobil di depanku. Suara klakson bersahutan karena ulahku, aku tersenyum menang. Kembali kuingat kata-kata Yoseob di depan gerbang sekolah tadi pagi.
~FLASHBACK~
 “Kau yakin ???” tanya yoseob setengah tidak percaya, aku hanya menjawabnya dengan anggukan. “Aigoo.... sebaiknya kau urungkan saja niatmu itu, dua orang itu pasti sudah merencanakan sesuatu untuk membalasmu.” 
“Aku tau itu,,,, tapi mereka pasti akan menganggapku pengecut jika aku tidak menerima tantangan mereka. Bagaimana, kau ikut tidak ?” tanyaku memastikan. Akhirnya diapun mengangguk. Aku tau Yoseob takkan mungkin membiarkanku menghadapi Junhyung dan Hyunseung seorang diri.
“Tapi...apa kau tidak takut akan mengecewakan eomma mu lagi ?” kali ini pertanyaan Yoseob sukses membuatku sadar. “Bukankah eommamu tidak tau kalau kau di skors seminggu ini ? bagaimana kalau eomma mu tau ?”
~FLASHBACK END~
Kuparkirkan motorku di sebuah taman. Kulihat seorang anak kecil yang sedang bermain bersama ibunya.
“Aigoo umma sakit ...” anak kecil itu terjatuh, dan refleks ia memegangi lututnya sambil  menangis dan memanggil eommanya. Sang ibu yang khawatir dengan anaknya segera mendekat dan meraihnya ke dalam pangkuannya.
“Ah,,,,gwenchana chagi. Ini cuma luka kecil, nanti pasti alngsung sembuh. Sudah ya janagn menangis lagi. Kalau kau menangis eomma akan merasa sanagt sedih. Kau mau jadi anak yang baik kan ?” Ibu itu menghapus air mata di pipi anaknya.
“dddrrrttttt...............!!!”
Kulihat sebuah pesan di ponselku.

From Junhyung :
Cepat datang, atau kau dan temanmu itu memang pengecut hah ?
Kutulis beberapa kata dengan sedikit keraguan.
To : Junhyung
Aku bukan pengecut dan aku tak perlu meladeni orang sepertimu lagi. 
Sent.....
Akhirnya kumasukkan ponsel kedalam tasku dan tersenyum mantap. Kulirik jam di tangan kananku. Ini saatnya aku memulai les prifat pertamaku hari ini.
*******

Aku berdiri di depan pintu sebuah apartemen. Kucocokkan lagi alamat yang tertera dalam secarik kertas di tanganku. Ini kertas yang di tinggalkan eomma di meja sebelum berangkat ke kantor tadi pagi.
Aku segera masuk setelah pemilik rumah membukakn pintunya.
“Yoon songsaenim ????” aku terkejut setengah mati. Ah..bisa-bisanya eomma meminta Yoon songsaenim menjadi guru prifatku .
“Kenapa diam saja di situ, cepat masuk.” Dia seolah-olah tak memperdulikan kekesalanku saat ini. Aku hendak berbalik namun dia sudah lebih dulu menangkap lenganku sehingga aku tak bisa bergerak kemanapun.
“Kau tidak suka ? jadi kau mau kabur hah ? cepat ikut aku” Akhirnya akupun mengikutinya ke ruang tamu dan duduk di sofa  sementara Yoon songsaenim berlalu di hadapanku.
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan ini. Cukup rapi juga, dindingnya di cat putih seluruhnya. Bahkan sebagian besar interiornya berwarna putih. Kemudian ada sebuah lukisan pulau Jeju yang cukup besar. Serta sebuket bunga matahari yang di letakkan di meja kecil di pojok ruangan.
“apa yang aku lihat ? kenapa tidak mengeluarkan buku pelajaranmu ?”  aku membelakkan mata karena tiba-tiba saja setumpukan buku sudah menggunung di hadapanku.
“Sebanyak ini yang harus kupelajari ?” kuambil sebuah buku yang tebalnya lima senti dan menunjukkan pada Yoon songsaenim dengan wajah heran. Dan Yoon Songsaenim hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Aigoo.....” Kuletakkan kepalaku di atas meja.
Hahahahaha..... sudah cepat kerjakan. Atau aku akan memberitahukan nyonya Lee kalau anaknya di skors selama seminggu.”
“Andwae...!!! Kumohon jangan katakan pada eomma..” kugosokkan kedua tanganku sebagai bentuk permohonan. Yoon songsaenim tersenyum dan matanya menyuruhku untuk segera melahap tumpukan buku di hadapanku.
******

Sudah empat hari aku mengikuti les prifat di rumah Yoon songsaenim di sore hari dan di siang hari aku berkeliling tak jelas. Yah, bagaimana mungkin aku berangkat ke sekolah semantara aku masih di skors, dan beruntung eomma belum mengetahuimya.
Kurebahkan tubuhku di ranjang, rasanya sangat nyaman. Kupejamkan mataku sambil  nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Tiba-tiba kurasakan seseorang mengusap lembut kepalaku. Pasti eomma.. aku masih terpejam, menikmati sentuhan lembut  yang menenangkan.
“Kau pasti sangat lelah chagi” kubuka mataku dan tersenyum. Kujawab pertanyaannya  dengan gelengan kepala.
“Eomma tau ini pasti sangat melelahkan, kenapa kau tak jujur saja pada eomma ? hemmm... eomma tidak mungkin memarahimu. Mungkin eomma sedikit kecewa. Tapi eomma tidak mungkin tega memarahimu chagi.” Eomma menyentuh pipiku. Rasanya aku paham dengan arah pembicaraanya. Pasti ini tentang hukuman yang di berikan sekolah padaku.
“Jadi eomma sudah tau ?” Aku membuang muka sambil menahan air mataku. Rasanya aku merasa sangat bersalah karena sudah tega membohonginya.
“Sudahlah...tidak perlu menyesal seperti itu, eomma tau kau melakukan itu demi menolong temanmu. Iya kan ?” Disentuhnya lagi kepalaku. Kali ini aku tak sanggup lagi membendung air mataku.
~FLASHBACK~
“Mianhae ajumma..” Dongwoon menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Kami  harap ajumma tidak memarahi Kikwang.” Yoseob ikut menimpali.
“Hhhh.....” Eomma Gikwang menghela nafas berat. Ia terlihat sangat terkejut dengan penjelasan Dongwon dan Yoseob. “Sebenarnya Yoon songsaenim sudah memberitahukan sejak awal, ajumma menunggu sampai Kikwang merasa lebbih tenang. Dan karena itu pula ajumma meminta Yoon songsaenim untuk mengajarinya.” Eomma Gikwang tersenyum dan itu membuat Dongwoon dan Yoseob sedikit lega. Terutama Dongwoon yang merasa sangat bersalah dan berhutang budi pada Kikwang.
~FLASHBACK END~
“Jadi eomma sudah tau dari awal ?”
“Iya chagi, tapi kau jangan marah pada Yoseob, Dongwoon apalagi Yoon songsaenim. Mereka semua sanagt menyayangimu.  Eomma justru sangat bangga padamu, kau berani membela temanmu yang lemah meskipun akhirnya kau yang mendapat hukuman. Yang penting sekarang kau buktikan pada eomma kalau kau bisa, kalau kau bisa berprestasi dan menjadi anak yang baik. Sudahlah jangan mengis lagi.” Eomma menghapus air mata di pipiku kemudian mengecup dahiku.
“selamat tidur chagiya,,,”
*****

Aku menujukkan sembaran kertas ulangan di hadapan Yoon songsaenim dangan senyum lebar. Nilai sembilan di pelajaran matematika, Yoon songsaenim mengangguk puas. Rupanya tidak sia-sia juga aku belajar selam dua minggu ini. Nilaiku meningkat di beberapa pelajaran. Bahkan Park songsaenim sampai terheran – heran saat memberikan hasil ulangan fisika padaku. Apalagi Junhyung dan teman-teman di kelas.
Sebagai hadiahnya, kali ini Yoon songsaenim membebaskanku untuk tidak belajar. Kami hanya ngobrol-ngobrol ringan sambil menonton pertandingan sepak bola. Ternyata Yoon songsaenim orang yang sangat baik dan menyenangkan. Berbeda sekali dengan kesan selama di kelas yang sangat menyebalkan.
“Kenapa kau memandangku seperti itu hah ? Jangan sampai kau menyukaiku yah ?“ Yoon sengsaenim membuyarkan lamunanku. Aku hanya menunjukan deretan gigiku dan menyipitkan mataku.
“Aku masih normal songsaenim.. kau pikir aku gila ?”
“Memangnya setua apa aku ?”
“hem ?”
“Mulai sekarang panggil aku hyung. Doojoon hyung, jika tidak di sekolah.. arraso ???” Dia mengacak rambutku.
“Ahh.... ah ne arraseo song,, eh,,hyung.” Lidahku agak sedikit kelu ketika mengucapkan kalimat itu.
“Ngomong-ngomong kenapa di sini tidak ada foto keluargamu song...eee hyung ?” Pertanyaanku membuat wajah Doojoon hyung berubah masam.
“Jangan tanya tentang keluargaku.” Wajahnya serius menatapku.
“Ah..mianhae jeongmal mianhae hyung.” Aku kembali mengalihkan pandanganku ke siaran sepak bola yang sedari tadi kami tonton. Tapi aku merasa suasana agak sedikit kaku gara-gara pertanyaanku tadi. Seharusnya aaku tidak perlu menangykan hal seperti itu. “Ah..pabo Kikwang “ kupukul kepalaku pelan.
“Kau tidak perlu minta maaf.” Doojoon hyung memecah kesunyian di antara kami. “Sebenarnya aku berasal dari panti asuhan, aku kehilangan keluargaku karena kebakaran besar yang menghanguskan aparteman tempatku tinngal dulu. Dan karena itu kedua orangtuaku meninggal sementara adikku entah berada di mana sekarang. Kami terpisah karena keributan saat itu. Tapi aku yakin dia masih hidup sampai saat ini, hanya saja Tuhan sepertinya belum mempertemukan kami.” Doojoon hyung bercerita sambil memandang lukisan pulau jeju di tembok. Matanya berkaca-kaca kerena menahan tangis.
“Ah...mianhae sudah membuatmu sedih hyung.”
“Kau tau, setiap kali aku melihatmua aku selalu merasa kau adalah adikku.” Mataku membelalak kaget, jadi itu mengapa dia ingin aku memanggilnya hyung.
“Baikalah, mulai sekarang aku akan menganggapmu sbagai hyung ku.”  Doojoon hyung tersenyum dari matanya aku tau dia mengucapkan terimakasih padaku. Dan tepat saat pertandingan usai aku membereskan barangku dan pamit pulang.
“Jangan lupa datang hyung..” kusembulkan kepalaku di balik pintu. Doojoon hyung mengacungkan ibu jarinya padaku. Aku harus memastikan Doojoon hyung datang ke rumahku besok malam. Eomma bilang ingin sekali bertemu dengan songsaenim yang sudah mengajarku selama ini.
******

Malam ini eomma membuat masakan yang sangat sepesial, Yoseob dan Dongwoon bahkan sudah datang dari sore. Semua makanan sudah tertata rapi di meja makan. Kulihat Yoseob yang sudah tidak sabar  memegang sendok dan garpu. Dari tadi dia terus memohon pada eomma dengan tatapan *boleh aku mencicipinya lebih dulu ?* Tapi eomma malah memelototinya. Sekarang hanya tinggal menunggu kedatangan Doojoon hyung. Eomma sengaja membuat pesta kecil untuk berterimakasih pada Doojoon hyung.
“Doojoon hyung akan sampai dalam lima menit eomma.” Kumasukkan ponsel kedalam saku celanaku.
“Mwo ? Hyung ? Apa kau tidak salah bicara Kwangie  ?” Yoseob terheran-heran bahkan sampai tersedak karena ia baru saja minum. Aku menemukan ekspresi yang sama di wajah Dongwoon.
“Waeyo..tak boleh aku memanggilnya hyung ?” kujulurkan lidahku. “Ah itu dia datang !!!”  seorang namja dengan kaos putih dan blazer hitam masuk dan tersenyum ke arahku.
“Annyeong ajumm...a....” kalimat Doojoon hyung terhenti ketika melihat eomma. Wajahnya menunjukkan keterkejutan, begitu juga dengan wajah eomma. Hening..
“Ada apa eomma, Doojoon hyung kenapa kalian diam saja. Apa kalian sudah saling kenal ?” Aku mencoba memecah keheningan.
“Doojoon ? Yo....yoon Doojoon ?”
“Lee jihyun ajumma ? benar ini.....” eomma sudah lebih dulu memeluk Doojoon hyung sambil menangis. Begitu juga dengan Doojoon hyung. Mereka sama-sama mengis.
Aku tak habis pikir, kupandangi kedua orang itu. Yoseob dan dongwoon pun sama terkejutnya denganku. Tapi kemudian mereka segera pergi tanpa menyantap makanan yang sudah siap. Aku tak perduli lagi, saat ini beribu bahkan berjuta pertanyaan singgah di otakku.
“Doojoon..benar ini kau ? aku tidak salah lihat kan ?”
“Benar..ini aku Doojoon..” mereka kembali berpelukan sambil menangis. Kusenderkan tubuhku di tembok, rasanya kakiku sudah tak kuat lagi menopang berat tubuhku. Tapi sebelum aku terjatuh, Doojoon hyung lebih dulu memelukku erat tapi masih menangis.
“Lee kikwang.. kau tak ingat padaku ?” aku diam “kau tak ingat pada hyungmu sendiri ? Kau tak ingat peristiwa kebakaran  yang memisahkan kita ?”  kurasakan ia semakin erat memelukku.
Samar-samar ingatanku kembali ke peristiwa mengerikan lima belas tahun yang lalu. Saat itu aku masih empat tahun. Malam itu kami makan malam bersama sekeluarga, eomma, appa, dan doojoon hyung. Tapi tiba-tiba saja alarm kebakaran berbunyi nyaring, kami yang baru menyantap sebagian makan malam kami panik. Eomma menggendongku keluar sedangkan appa berlari di depan sambil menggandeng doojoon hyung.
Tapi api besar sudah mengepung begitu kami membuka pintu luar.  Beberapa keluarga penghuni lantai empat juga panik seperti kami. Akhirnya tim pemadam kebakaran muncul dari jendela, mereka membawa anak-anak lebih dulu, termasuk aku dan Doojoon hyung. Begitu kami sampai di bawah, kami langsung di bawa kerumah sakit. Itulah saat terakhir aku bertemu Doojoon hyung. Karena setelah sampai di rumah sakit aku tak melihatnya lagi. Beruntung bibi Jihyun, adik kandung Eomma  menemukanku dan segera membawaku pulang. Dia berjanji akan mencari Doojoon hyung. Tapi tetap tidak ketemu.
“Ne..aku ingat itu hyung..”
******

“Jadi setelah itu kau kemana hyung ?” tanyaku setelah kami menyantap makan malam yang sempat tertunda. “Bukankah kau pernah bilang kalau kau tinggal di panti asuhan ?” Tapi kenapa kau tidak mencariku dulu hah ? Kenapa kau malah pergi dan meningalkanku seorang diri ? Kau tidak ingat adikmu itu masih kecil hah ?” Kau.... emphh...” Eomma membekap mulutku karena sedari tadi aku terus memberondong Doojoon hyung dengan pertanyaan dan menyalahkannya. Doojoon hyung tertawa melihatku kekesalanku.
“Kau bisa tanya satu-satu kan ?” kini eomma memasukkan potongan apel ke mulutku.
“Yah...seperti yang kau tau aku memang tinggal di panti asuhan seperti apa yang pernah kukatakan  padamu. Dan,,,aku tak bermaksud meninggalkanmu saat itu. Aku sudah mencari ke seluruh ruangan di rumah sakit saat itu, tapi aku tetap tidak menemukanmu. Bahkan sampai aku di pantai asuhanpun aku masih  terus mengunjungi rumah sakit, berharap aku bisa menemukanmu juga eomma dan appa. Tapi justru yang kulihat hanya daftar korban yang meninggal, dan kulihat nama eomma dan appa di sana. Aku hanya berharap bisa menemukanmu secepatnya, meskipun akhirnya aku hanya bisa pasrah karena setelah itu aku di pindah ke panti asuhan di luar Seoul. Aku yakin kau masih hidup dan Tuhan menjagamu. Dan ternyata Tuhan sudah menitipkanmu pada bibi.. terimakasih banyak bibi..”
“Ah sudah sudah sudah...kalau begini terus bisa banjir aiir mata lagi, sebaiknya kita rayakan pertemuan kita malam ini. Bagaimana ?” Kutuangkan soju pada tiga gelas kosong.
“Yaa,,kenapa tiga gelas, yang ini untuk siapa ?” Doojoon hyung menunjuk satu gelas yang baru kuisi setengahnya.
“Tentu saja untukku..memangnya tidak boleh ? Aku juga ingin mencoba..” 
“Andwae...!!!!!” segelas soju di tanganku kini sudah berpindah ke tangan Doojoon hyung. “Kau ini masih kecil, belum boleh meminum soju.”
“Yaa...aku bukan adik kecilmu lagi, aku sudah besar tau.. cepat berikan padaku hyung..!!”
Eomma hanya terkekeh melihat kebahagiaan kami. Well, finally i found you my brother. I found my new family. Meskipun tanpa eomma dan appa. Tapi aku sudah mendapatkan eomma baru yang sangat menyayangiku.
“Tapi sepertinya kita perlu membuat pesta yang lebih meriah lagi.”Eomma mengedipakn mata kearahku. “Dan kuharap Yoseob dan Dongwoon bisa ikut bergabung. Sudah cepat sana kalian tidur..”
“cup,..” tiba-tiba Doojoon hyung mencium pipiku. Aku segera menghapusnya dengan punggung tanganku.
“Yaaaaaa.....menjijikannnnn....!!!!!”

Sekian^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Midnight post ~~~

Drama Korea Baru Tayang Mei 202, Ada L infinite Hingga Go Kyung Pyo