Surat Warna Warni
Ia
selalu rajin menulis surat-surat itu. Ketika hatinya diliputi rindu, ketika
kemarahan menyempil dalam hati, ketika seduri cemburu meremukkan hatinya sampi
menjadi remah-remah roti, ia pasti akan menulis surat itu. Surat dengan gelora
cinta yang menggebu. Tapi naas, surat itu tak pernah sekalipun mendarat di meja
kantor pos, apalagi sampai pada alamat yang dituju. Surat-surat itu selalu
berakhir di kolong ranjangnya yang berdebu dan dipenuhi serangga-serangga tak
berbisa.
Ketika
sesekali ia membersihkan kolong ranjang, ia akan menumpuk surat itu dan
membacanya kembali. Menemukan berbagai rasa seperti bumbu dapur yang membuat
masakan begitu sedap. Kadangkala ia menangis sesenggukan sampai matanya sembab,
di lain waktu ia akan tertawa sampai berguling-guling dan merasakan keram di
perutnya. Kadang pula ia hanya memandangi surat itu dan menyebarnya lagi di
kolong ranjang.
Aku tau
ia memang tak pernah berniat untuk mengirim surat itu. Ia hanya ingin
menumpahkan apa yang ada dalam hatinya. Kecintaanya, kekagumannya,
kebahagiaanya, kesedihannya dan kecemburuannya. Semua itu hanya mampu ia lampiaskan
pada berlembar-lembar kertas surat dengan aneka warna. Ketika sedih ia akan
menulis dengan kertas berwarna merah. Ketika senang ia gunakan kertas berwarna
hitam. Ketika cemburu adalah kertas warna kuning. Satu yang tak berani ia
gunakan adalah kertas bewarna putih. Karena putih adalah warna di hari
pernikahan si penerima surat.
Inspired by a story by Dee “surat yang tak pernah sampai”
Ngaliyan. June 25th 2014
At 06.00 am

Komentar
Posting Komentar