FF/B2ST/ Fate
FATE
let's break
up
don't say anything to me today
i can't even accept a joke from you
don't ask me if I love you or not
you might not believe me, but I want to break up
don't say anything to me today
i can't even accept a joke from you
don't ask me if I love you or not
you might not believe me, but I want to break up
“Kau
bercanda kan oppa ?” Suzy menyandarkan kepalanya di bahuku. Tanpa memperdulikan
pernyataanku tadi, dia memulai bercerita. “Kau tau oppa... aku merasa sangat
bahagia saat ini. Bersandar di bahumu
membuatku merasa sangat nyaman. Tak perduli apapun masalah yang kuhadapi saat
ini, kau selalu bisa membuatku merasa lebih baik.”
Kemudian
kami terhanyut dalam kesunyian. Tenggelam di antara gemericik suara air yang
berkilauan ditempa cahaya lampu taman. Bulan yang berbentuk setengah lingkaran
memancarkan cahayanya, bersaing denagn terangnya lampu-lampu kota.
“Sudah
cukup.” Ucapku sambil melepas kepala Suzy dan bangkit berdiri. Ia terkejut
sambil memandangku heran. “Sudah,,,kita
akhiri sampai disini saja.” Kuperjelas kata-kataku tadi.
Suzy
memandangku dengan tatapan tak percaya. “Aniyo oppa......lihat aku” dia beranjak
dari kursi dan menyentuh pipiku dengan kedua tangannya. Namun buru-buru kutepis
dan mundur untuk memberi jarak.
“Kau
harus melupakanku Suzy, tak ada lagi hubungan di antara kita.”
“Bagaimana
kau bisa mengatakan itu padaku oppa ?”
“Lupakan
aku....anggap saja kau tidak pernah bertemu denganku. Tidak sulit kan ?”
“Waeyo....? waeyo oppa ? Kenapa kau tiba-tiba saja mengatakan ini padaku ? Kau pikir bisa semudah itu melupakan orang yang pernah hadir di kehidupan kita. Kau pikir dengan aku pura-pura menganggap ini tak pernah terjadi semua akan baik-baik saja ? Apa kau tak sadar betapa egoisnya dirimu itu ?” mata Suzy memerah dan mulai berkaca-kaca.
“Seperti
yang kukatakan tadi, kembalilah ke saat dimana kita tidak saling mengenal, cari
orang lain yang lebih baik dariku. Lupakan aku dan hiduplah dengan bahagia. Sesulit
apapun itu kau pasti bisa melupakanku. Dan ingat satu hal, jangan pernah
menyapaku lagi dimanapun kita bertemu.” aku sengaja meninggikan nada suaraku
dan langsung berlalu dari hadapannya.
Kudengar
suara langkah kaki dan kurasakan seseorang menahan lenganku. Memaksaku berbalik
ke belakang.
“Jadi
itu semua yang ingin kau katakan oppa ? Kau ingin kita putus dan menganggap
seolah ini semua tak pernah terjadi. Dan aku harus menghilang dari kehidupanmu.
Bagaimana bisa kau mengatakan semua itu
? Kau tau oppa... kau sangat kejam. Kau adalah orang paling kejam yang pernah
aku temui selama hidupku.” Suzy masih menahan salah satu tanagnku.
“Bagus
kalau kau tau itu. Jadi mulai sekarang lupakan aku dan jangan pernah muncul
dalam kehidupanku lagi. Jika kita bertemu di sekolah, anggap saja kita tak
saling kenal.” Kukibaskan genggaman tangannya dan pergi secepat mungkin menuju
sebuah mobil hitam yang terparkir di pinggir taman.
~~~~~~~~
Seharian
ini aku hanya menghabiskan waktu di kamar. Mungkin aku terlihat seperti
pengecut di matanya, tapi aku benar-benar tak ingin melihanya untuk sementara
waktu. Kumiringkan badanku ke kiri dan kanan.
“Waeyo....? waeyo oppa ? Kenapa kau tiba-tiba saja mengatakan ini
padaku ? Kau pikir bisa semudah itu melupakan orang yang pernah ada di
kehidupan kita. Kau pikir dengan aku pura-pura menganggap ini tak pernah
terjadi semua ini akan baik-baik saja ? Apa kau tak sadar betapa egoisnya
dirimu itu ?”
Kututup
mataku perlahan, berusaha untuk melupakan kata-kata Suzy kemarin, tapi semakin
kucoba untuk melupakannya, perasaan bersalah itu semakin membesar. Akhirnya aku
bangun dan duduk di tepi ranjang. Mengacak acak rambutku yang memang sudah tak
jelas bentuknya dari tadi.
“Seobie
ya... makan malam sudah siap.” Kudengar suara eomma berteriak dari luar kamar.
Mau tidak mau aku harus menuruti juga, meski aku tak ada selera makan sama
sekali.
“Kenapa
kau belakangan ini sering murung Seobie ? apa kau sakit lagi ?” Eomma bertanya
sambil meletakkan orang juice yang tinggal setengah isinya.
“ani..ani
yo eomma. Aku hanya sedang kelelahan saja.” Kuambil seiris daging panggang yang
tersedia di meja. Aroma khas lada hitam langsung menusuk hidungku. Tapi ini
yang paling kusuka, daging panggang dengan bumbu lada hitam. Neomu mashitaa.
Eomma memang paling jago dalam hal memasak, meski eomma sibuk dengan
restorannya eomma selalu bisa membagi waktu untuk kami sekeluarga.
“oke
baguslah kalau begitu, jangan terlalu lelah ya. Kau harus banyak beristirahat.”
“sepertinya
kemarin malam aku melihatmu dengan Suzy di taman, apa kalian bertengkar ?” kali
ini hyunseung hyung ikut bergabung dalam pembicaraan kami. Dia masih sibuk
mengunyah sepotong apel merah sebagai cuci mulut malam ini tanpa melihat
kearahku. Appa sedang lembur di kantor , karena itu kami hanya makan malam
bertiga saja.
“bukan
urusanmu.”
“ya
sudah...dasar pemarah.” Hyunseung hyung pergi dengan meninggalkan piring dan
mangkok kotor di meja. Aku hampir saja melemparnya denagn sendok jika eomma
tidak mendelikkan matanya ke arahku.
~~~~~~~
Aku
melangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah setelah melambaikan tanganku pada
Hyunseung hyung yang langsung melesat dengan mobil hitamnya. Ini adalah hari
pertama aku masuk sekolah setelah pertemuanku dengan Suzy empat hari yang lalu.
Aku sengaja meminta Hyunseung hyung untuk mengantarku kali ini karena aku sedang tidak ingin membawa motor
sendiri. Untungnya Hyung sedang dalam keadaan yang senang, kalu tidak dia pasti
akan membiarkanku berangkat sendirian.
Sekolah
sudah mulai ramai, kulihat seorang namja yang melambaikan tangannya padaku. Aku
langsung mengampiri namja bernama min woo itu.
“kemana
saja kau mengilang beberapa hari ini ?” min woo mencopot headphon yang menutupi
telinganya. “aku mencari ke rumahmu tapi sepi.” Lanjutnya lagi.
“tentu
saja liburan, apa lagi ?” jawabku asal sambil berjalan mendahuluinya. Sebentar
lagi masuk kelas dan aku tidak ingin terlambat kali ini. Sekilas kulihat sosok
yeoja yang baru kusakiti kemarin. Dia tampak tergesa-gesa menuju ke tangga
sebelah barat. Dia terus berlari sampai menghilang dari pandanganku. Aku
tersenyum getir meliahat yeoja itu.
“sudah
puas, ayo cepat.” Kususul min woo yang berjalan di depanku sambil bernyanyi
pelan. Headphone besar itu sudah kembali di kepalanya.
“kau...
apa yang kau lakukan di sini ?” min woo masih tak berhenti menyantap
makanannya.
“diamlah.”
“apa
kau ada masalah dengan Suzy.” Dia menghentikan makannya dan menatapku serius.
Kemudian melongok Suzy yang duduk tak jauh dari tempat kami. Aku menjwab dengan
senyuman seadanya, kemudian menyantap makanan yang baru kupesan.
“yaa....!!!
kenapa denganmu ?”
“hhh....”
aku masih tak memperduliakannya. Aku tau dia pasti akan menanyakan hubunganku
dengan Suzy saat ini, dan aku sedang tak inigin membahas masalah itu. Bisa-bisa
selera makanku hilang. Tapi memang sebenarnya aku sangat tidak berniat makan
saat ini. Kualihkan pandanganku sejenak pada objek yang di lihat Min woo tadi,
kemudian meneguk sebotol air mineral. Sekali lagi kuperhatikan Suzy yang sedang
menikmati makan siangnya sendirian. Dia terlihat sedih, aku ingin sekali
menghampirinya tapi tidak bisa untuk saat ini. Dia harus bisa melupakanku.
Kemudain aku meninggalkan min woo dengnn tanda tanya yang berputar di
sekeliling kepalanya.
~~~~~~~~~
Aku
langsung merebahkan diri di ranjang begitu sampai di kamar. Tanpa melepas
sepatu maupun jas yang kukenakan saat itu. Kupejamkan mataku untuk beberapa
saat. Senangnya hari ini bisa meliaht Suzy lagi. Tapi yang kudengar ia menjadi
lebih pendiam saat ini.
“kau
putus dengan Suzy ?” min woo langsung menembakkan pertanyaan itu begitu kami
sampai di kelas. Dia berdiri di depanku, membelakangi papan tulis.
Aku
hanya menghela nafas untuk menjawab pertanyaannya. Aku yakin dia mengerti
jawabannya tanpa aku perlu bicara.
“sudah
kuduga.” Kini min woo sudah duduk di sebelahku. “Kau tau, sudah beberapa hari
ini Suzy menjadi lain, kulihat ia lebih banyak diam dan menyendiri. Aku
pikir itu hanya karena kau yang tidak
berangkat beberapa hari ini. Karena setiap kali kutanyakan keadaanmu pada Suzy,
dia hanya tersenyum, menjawab “tidak tahu” kemudian meninggalkanku dengan wajah
sedih. Dan ternayta setelah kau masuk pun kalian tidak bersama lagi.”
“aku
harap dia segera melupakanku.” Min woo mengerutkan keningnya demi
menterjemahkan kalimat barusan.
“kau
baru saja menyakiti orang yang kau sayangi, dan sekaligus menyakiti dirimu
sendiri.”
Begitulah
yang kudengr dari min woo saat di kelas tadi. Kulepaskan kancing jasku dengan masih menutup mata.
“minum
ini.”
Kubuka
mataku dan kulihat Hyunseung hyung meletakan sebotol obat dengan segelas air
putih di meja belajarku. Kemudain bergegas keluar tanpa menutup pintu kamar.
“Aku
bosan.” Kualihkan pandanganku ke arah jendela yang masih terbuka lebar.
Menampilkan pemandangan sore hari yang dibalut gerimis. Hyunseung hyung kembali dan duduk di salah
satu sisi ranjangku. Mengambil dua butir obat dari botol dan menyerahkan
padaku.
“minulah
sedikit. Setelah itu temani aku ke
Chatarsis.” Dia memandangku sendu. Kulihat kesedihan di matanya. Dia segera beranjak
begitu memastikan aku meminum obat yang di berikannya tadi.
“Bolahkah
aku menyerah hyung ?”
Hyunseung
hyung menatapku sekilas dari pintu, kemudain beralalu tanpa sepatah kata. Aku
tau dia pasti marah mendengar ucapanku barusan, kusadari kebodohanku saat itu
juga. Kemudian aku melengkah ke kamr mandi yang ada di kamarku dan mandi
secepat kilat.
Hyunseung
bekerja paruh waktu sebagai penyanyi di chatarsis cafe, suaranya sangat indah
dan unik. Di tambah lagi dengan wajah yang manis, membuat banyak yeoja betah
duduk berlama-lama memandang hyungku tampil di atas panggung. Aku sangat kagum
padanya.
~~~~~~~
Malam
ini chatarsis sangat ramai, aku memilih duduk di pojok sambil meminum softdrink,
aku harus menjauhi soju untuk beberapa saat. Hyunseung hyung langsung nik ke
panggung di iringi tepuk tangan dan teriakan penonton. Kali ini dia hanya
memainkan lagu slow diiringi gitar akustiknya. Lagu berjudul sorry I can’t laugh
for you milik 2AM mengalir lewat suara indahnya. Membius setiap orang yang
mendengarnya untuk larut dalam lirik yang di nyanyikannya. Penonton bebar-benar
menikmati suasana ini.
oh~ I, who
held you through hard times, who comforted you in pain
yes, that same person is trying to forget you.
i'm sorry i can't smile for you
i'm sorry but let's break up
i'm sorry i can't smile for you
i'm sorry but let's break up
let's break up let's break up let's break up
when i sent you away I too (I too)
was having a hard time (a hard time)
now i'm trying to live alone (alone) without you
don't ask me how I'm doing
you might not believe me, but i'm doing great
yes, that same person is trying to forget you.
i'm sorry i can't smile for you
i'm sorry but let's break up
i'm sorry i can't smile for you
i'm sorry but let's break up
let's break up let's break up let's break up
when i sent you away I too (I too)
was having a hard time (a hard time)
now i'm trying to live alone (alone) without you
don't ask me how I'm doing
you might not believe me, but i'm doing great
Entah
apa yang membuat hyungku menyanyikan lagu ini, liriknya benar-benar mewakili
keadaanku dengan Suzy saat ini. Akupun kembali terpekur memandangi lantai hitam
yang kujadikan pijakan.
“mianhae...jeongmal
mianhae....” Aku merasa seperti
mendengar suara yang sangat familiar di telingaku. Kulihat seorang yeoja sedang
membersihkan jas seorang namja sambil membungkuk dan meminta maaf beberapa kali.
Sepertinya yeoja itu tak sengaja
menumpahkan minuman yang ada di tangannya.
Suzy,
aku yakin pasti dia. Aku tak pernah salah lihat.
Kulihat
dia berjalan gontai setelah namja itu pergi. Wajahnya kacau, aku tak bisa
membiarkannya seperti ini. Dan tiba-tiba mata kami saling bertemu, dia menatap
tajam ke arahku. Tapi dia langsung
menghindar dan pergi begitu saja.
“mau
apa kau ?” tanya Suzy dingin. Dia berusaha melepas tanganku begitu aku
mendapatkannya. Tapi kutahan lengannya dan membawanya ke taman di dekat
chatarsis.
“mianhae
Suzy ah.” Kutarik dia kedalam pelukanku saat itu juga. Dia berusaha melepskan
diri dari dekapanku, tapi aku mendekapnya semakin kuat sampai akhirnya ia
terdiam. Dan beberapa detik kemudian kudengar suara lirih tangisnya.
“menangislah
sepuasmu saat ini, selama aku ada di sampingmu. Jangan pernah menangis jika aku tak ada. Kau pasti
bisa bertahan tanpaku Suzy.” Kukecup ujung kepalanya kemudian menghapus sisa
air mata di pipinya.
“kumohon
jangan menangis lagi.” Suzy mengangguk dan membalas pelukanku.
~~~~~~~~~
Eomma
membuka tirai yang menutupi jendelaku, membiarkan sedikit sinar matahari masuk
dan membuatku mengerjapkan mata karena silau. Aku berniat bangun tapi tiba-tiba
kurasakn nyeri yang sangat menyakitkan di kepalaku. Akhirnya kurebahkan lagi
tubuhku sekedar untuk mengurangi rasa sakit di kepala.
“Gwenchanayo
Seobie ?” eomma berjalan ke arahku dengan wajah khawatirnya.
“Gwenchanayo
eomma, jangan khawatir padaku.” Kupejamkan mataku ketika kurasakan tangan eomma
memijit pelan kepalaku. Sedikit mengurangi rasa sakitku ini. “Jangan pergi ke
sekolah dulu, kau harus banyak istirahat.
eomma tidak akan berangkat kerja untuk menjagamu di sini.” Eomma masih
memijit kepalaku.
“Ada
apa seobie ?” appa masuk ke kamarku di susul Hyunseung hyung di belakangnya.
“Gwenchanayo
appa, hanya sedikit pusing saja. Eomma pergilah bekerja.” Kuraih tangan eomma
dari keningku dan menciumya.
“Aniyo...eomma
akan menemanimu hari ini.” Eomma tersenyum, membuatku rasa sakitku sedikit
terobati.
“istirahalah
dulu beberapa hari ini di rumah. Appa berangkat dulu yah.”
“eomma
akan membawakanmu sarapan.”
Mereka
semua pergi dengan wajah sedih. Kupegangi kepalaku yang masih terasa sakit.
Entah sampai kapan aku bisa terus bertahan dengan semua keadaan ini.
==flashback==
“bagaimana
keadaan Yoseob dok ?” eomma memandang cemas ke arah dokter Jung. Aku masih bisa
mendengar sedikit pembicaraan mereka dari balik pintu. “apa keadaannya semakin
memburuk ?” lanjut eomma lagi.
“saya
akan memberitahu anda kapan dia harus melakukan tranfusi darah lagi. Selama
beberapa hari ini jangan biarkan dia kelelahan. Ia pasti sering merasa pusing
dan cepat lelah. Ini gejala yang biasanya dialami penderita thalasemia. Saya
permisi.”
==end flashback===
Tinggal
menunggu hari saja. Ya hanya tinggal menunggu hari dimana aku harus meninggalkan
mereka semua. Orang yang kusayangi, eomma, appa, hyunseung hyung, dan tentunya
Suzy. Mereka harus bisa hidup tanpaku.
~~~~~~~
Sepertinya
penyakitku semakin bertambah parah. Setiap dua minggu sekali aku harus mendapat
tranfusi darah di rumah sakit. Menyebalkan sekali karena aku harus berkali-kali
memandangi alat-alat aneh yang selalu melekat di tubuhku. Pun bau obat, aku
sudah muak menciumnya.
“malam
ini aku ikut ke chatarsis ya hyung.” Kataku sambil membetulkan tali sepatu yang
terlepas.
“kau
istirahat saja di rumah.”
“ah..shireo
!! aku bosan melihat alat-alat aneh ini. Aku ingin refreshing. Kalian juga
selalu mengurungku di rumah, hanya membiarkanku pergi ke sekolah.” Hyunseung
hyung tidak mendengarkanku dan terus berjalan ke tempat parkir.
“baiklah,
tapi ajak temanmu itu. Min woo. Oia.. apa kau sengaja menjauhi Suzy karena hal
ini ?” katanya sambil membuka pintu mobil. Aku segera mengikutinya dan duduk di
sebelah kemudi.
“kenapa
kau tiba-tiba menanyakan hal ini hyung ?”
“sepertinya
sekarang aku jarang melihat kalian jalan berdua. Apa kau sengaja menjauhinya ?” katanya sekali
lagi.
Aku
hanya mendesah pelan kemudian mengalihkan pandanganku ke jalan yang ramai ini.
Beberapa mobil terlihat saling mendahului satu sama lain.
“Dengar
bodoh, jangan pernah ucapkan kalimat itu lagi.” Hyunseung hyung menghentikan
mobilnya dengan kasar di depan lampu lalu lintas yang berwarna merah. Kudengar
klakson dari mobil di belakang kami yang protes karena kelakuannya tadi.
“a...apa
maksudmu hyung ?”
“pabo...jangan
pernah berpikir untuk menyerah. Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah
memaafkanmu jika kau sampai menyerah dengan penyakitmu ini.”
Aku
tertunduk, berusaha menahan air mata yang hampir pecah.
~~~~~~
“ini
untukmu.” Min woo menyerahkan sebuah kotak kecil kepadaku dan langsung duduk
tanpa kuperintah.
“apa
ini ?” kupandangi kotak berwarna putih dengan motif garis biru itu.
“entahlah...tadi
Suzy menitipkannya padaku sepulang sekolah.”
“jinja
?” aku tersenyum senang.
“apa
kau tidak ingin mendengar kabar Suzy saat ini ?”
“shiro.
Aku tidak ingin mendengar apapun tentangnya saat ini. Wae ???”
“pabo
! berhentilah membohongi dirimu sendiri. Kau tau, kau sedang menyakiti orang
yang paling kau sayangi, dan itu adalah perbuatan yang paling kejam. Kau tau
itu !!!” min woo menatapku tajam. Aku
tak tau apa yang di pikirannya saat ini.
“apa
itu jadi masalah buatmu ?” kataku sedikit ketus.
“tentu
saja. Suzy bahkan merasakan sakit lebih dari apa yang kau rasakan saat ini. Kau
telah melukainya.” Min woo bangkit dan langsung mneinggalkanku. “setidaknya kau
beritahukan keadaanmu padanya.” Katanya lagi sebelum menutup pintu.
Tiba-tiba
saja kepalaku terasa sanagt sakit dan semuanya menjadi gelap.
~~~~~~~~
Lagi-lagi
aku berada di tempat ini. Dan tentu saja
alat-alat aneh itu kembali menempel di tubuhku. Bau obat sudah tercium jelas di
hidungku, meski tertutup oleh masker oksigen.
“yoseobie.”
Eomma tersenyum senang di sampingku. Masih bisa kulihat sisa kekhawatiran di
wajahnya. Tapi dia tetap berusaha untuk tersenyum. Kulihat hyunseung hyung,
appa dan min woo juga tersenyum lega.
“sudah
berapa lama aku disini ?”
“sekitar
lima jam.” Eomma membelai rambutku.
“jeongmal
mianhe eomma.” Mataku memerah menahan tangis. “mianhae.” Kini aku tak bisa lagi
menahan darah bening yang mengalir dari ujung mata. Eomma memelukku erat.
“jangan
menangis, eomma tidak suka melihatmu menangis seperti ini. Kau pasti bisa sembuh, percayalah pada
eomma.” Jari-jari lembut eomma menhapus air mata di pipiku. Aku tahu eomma
hanya ingin menenangkanku saja, karena penyakit thalasemia belum ada
obatnya sampai saat ini. Dan aku harus
bersyukur karena bisa menjalani kehidupan sampai saat ini.
~~~~~~~
“penyakit thalasemia merupakan suatu kelainan darah bersifat
genetik. Kerusakan DNA akan menyebabkan tidak optimalnya produksi sel darah
merah penderitanya serta mudah rusak sehingga kerap menyebabkan anemia.”
“apa
dulu ada yang mengidap thalasemia di keluarga kita ?”
“entahlah,
eomma tidak tahu.” Katanya sambil membetulkan letak selimutku. “sudah sekarang
saatnya istirahat.”
Aku
segera membuka kotak kecil yang ditipkan Suzy pada Min woo beberapa hari yang
lalu. Ternyata berisi sebuah surat dan
Hai yoseobie.... bagaimana kabarmu saat ini ? aku harap kau
baik-baik saja disana, kekeke^^^^
Aku tidak pernah melihatmu di sekolah beberapa hari ini,
sebenarnya kemana saja kau ? apa kau takut padaku ? Atau kau malah sedang
liburan ke Jepang tanpaku.
Kembalilah ke sekolah, aku sangat rindu padamu. Aish......tenang
saja, aku tidak akan mengejarmu terus. Aku tak perduli lagi apa alasanmu
memutuskan hubungan kita. Tapi aku harap kita akan tetap berteman seperti dulu.
Bagaimana , kau setuju kan ?
Jadi aku mohon, berangkatlah ke sekolah. Jebal......
^_^
Kulipat
kertas surat berwarna biru muda itu dan mengambil sebuah kalung berbandul
cincin. Di dalam cincin itu terukir namaku. Yang Yoseob. Kemudian aku mengambil
ponselku dan mengirim pesan singkat pada Suzy.
Kau merindukanku eoh ?
Tentu saja, aku sudah sangat rindu untuk menjitak kepalamu itu :p
Aish.....kalau begitu aku tidak akan berangkat :p
Yaaaa.....!!! kau pasti akan menyesal nanti
Jinjja ??? kalau begitu kau saja yang menemuiku.
Arasseo...dimana ?
Taman di sebelah Chatarsis cafe jam tujuh malam ^^
~~~~~~
Malam
ini sangat cerah, langit terliaht sangat bersih tanpa awan. Aku sudah meminta
hyung untuk mengijinkanku keluar malam ini. Aku bilang kalau aku ingin
berbalikan lagi dengan Suzy sekarang jadi aku harus pergi.
“sudah
menunggu lama ?” Suzy datang dari belakang dan langsung duduk di sampingku. Dia
memakai pakaian casual tapi masih mencerminkan kesan feminim. Celana jeans
hitam dan kemeja pink berenda dengan motif polkadot putih serta jaket merah
hati. Di padukan dengan high heels warna
senada dengan jeans yang di pakainya. Aku kembali mencium aroma parfum
yang sudah lama tak kurasakan.
“baru
beberapa menit yang lalu. kau semakin cantik saja.”
“aish...jangan
merayuku lagi. Atau kupukul kau.” Kulihat wajah Suzy mulai memerah, dia memang
akan tetap cantik di mataku sampai kapanpun.
Sesaat
kami terdiam, sibuk dengan pikiran kami sendiri.
“aku...aku
ingin minta maaf soal waktu itu.” Kuberanikan diri untuk mengatakan hal itu.
“sudah
kubilang...aku tak perduli lagi. Yang penting kita masih bisa berteman seperti
dulu.” Suzy tersenyum manis.
“aku
hanya ingin memberitahukan padamu saja. Sebentar lagi aku akan pergi jauh, jadi
akau takut aku tak bisa jauh darimu.
Jadi aku ingin belajar untuk menjauhimu selama beberapa saat.” Aku tertunduk
“baguslah,
setidaknya kau berikan alasan yang jelas padaku. Bukan meninggalkanku secara
tiba-tiba seperti kemarin. Tapi kau akan pergi kemana ? Apa selama itu ?”
“entahlah....tapi
aku akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Kau lihat bintang di sana kan ? Aku
ingin pergi kesana.”
“seperti
anak kecil saja.” Suzy terkekeeh pelan “kalau begitu aku akan pergi ke bulan
itu. Bagaimana ? jadi kita bisa bertemu setiap malam. Hehehe...”
“kau
seperti anak kecil.” Kujitak pelan kepalanya. Kemudian kuliahat dia melepas
kalung dilehernya dan menunjukan padaku.
“ini
adalah kalung pasangan yang kuhadiahkan padamu, jadi janagn sampai kau
hilangkan. Meski kau pergi kemanapun, aku harus selalu membawanya. Kau harus
ingat ini adalah hadiah dari seorang sahabat yang tercantik. Mengerti ???”
“Arasseo....”
~~~~~~~
Aku
sudah masuk sekolah seperti biasanya,
hanya saja aku harus rutin melakukan tranfusi darah setiap dua minggu
sekali.
Tapi sepertinya tubuhku mulai melemah dan semakin
rapuh. Gejala anemia semakin sering terjadi dan akhir-akhir ini jantungku
berdetak lebih keras dan kadang di
sertai sakit.
“Kerusakan sel darah merah pada penderita thalasemia akan
mengakibatkan zat besi tertinggal di dalam tubuh dan bisa menumpuk dalam organ
tubuh seperti jantung dan hati dan lama kelamaan akan mengganggu fungsi organ
lainnya, selain juga bisa akibat suplai darah merah dari transfusi, dan ini
menjadi penyebab kematian utama dari penderita thalasemia, terutama akibat
penumpukan pada jantung.”
~~~~~~
“bersabarlah
Seobie...” hyunseung memegangi tanganku. Aku hanya bisa terpejam sambil menahan
sakit.
Aku
kembali lagi ke ruamah sakit, sudah lima hari tapi sakit yang kurasakan sama
sekali tidak berkurang. Bahkan terasa semakin parah. Hyunseung hyung, eomma dan
appa tidak pernah membiarkankui sendiri. Mereka selalu bergiliran
menjagaku. Kadang Min woo juga mampir
kemari. Dia selalu menceritakan keadaan di sekolah selama aku tidak masuk.
“hyung.........”
kubuka mataku pelan
“ne”
“aku....aku....aku
ingin menyerah. Bolehkah ? aku sangat lelah dengan keadaan ini, aku juga lelah
melihat kalian yang harus selalu menjagaku.”
“anak
bodoh, bukankah aku melarangmu untuk mengucapkan hal itu lagi. Kenapa kau masih
saja mengatakan hal yang sama. Kami semua sayang padamu, kami tak akan rela
jika kau pergi lebih dulu. Bertahanlah untukku, eomma, appa dan semua orang yang
menyayangimu. Kau pasti sembuh seobie.”
“jangan
bohongi aku lagi hyung, aku tau sampai saat ini tak ada obat yang bisa menyembuhkanku.
Semua pengobatan ini hanya untuk mengurangi
sedikit rasa sakit yang kurasakan.”
Aku
menangis sejadi-jadinya, bahkan hyunseung hyung juga ikut menangis.
~~~~~~
Tak
ada hujan dan angin, tiba –tiba saja Suzy berada di sampingku saat ini. Dia
tersenyum manis, tapi ada raut kesedihan di wajahnya. Aku yakin dia sudah
mengetahui keadaanku saat ini. Ah, memalukan sekali jika terlihat lemah oleh
orang yang kau sayangi. Sementara kau ingin menjadi pelindungnya.
“kau
belum makan kan ? kudengar kau susah makan. Kau pasti bosan dengan makanan dari
rumah sakit ini. Karena itu aku bawa makanan sendiri. Ta –da.......!!!”
berbagai macam makanan sudah tertata rapi di depanku saat ini.
“kau
yang memasak ini semua ?”
“ne,
cobalah.”
“mashita.”
“jinjja
???”
“ne.”
“cepatlah
sembuh Seobie, aku ingin kita bersama seperti dulu.” Suzy menggenggam tanganku
erat. “oia, aku akan mengikuti lomba melukis besok. Datanglah kalau kau bisa,
aku pasti akan sangat senang.”
"Kau
bahkan tidak pernah memberitahu kalau kau pandai melukis, kenapa tidak
melukisku saja ? “
“akan
kubawakan lukisanmu besok.”
~~~~~~~
Hari
ini matahari sama sekali tidak menampakkan wajahnya. Membuat suasana menjadi
semakin murung dan lesu. Aku tergolek lemah di ranjang ini di temani hyunseung
hyung dan eomma. Sejak tadi malam jantungku terasa sangat sakit, bahkan sampai
sekarang juga. Seharusnya aku menemani Suzy, tapi ternyata tak ada hal yang
bisa kulakukan untuknya.
“eomma...
hyung.”
“ada
apa chagi ?”
Kuraih
tangan eomma dan menciumnya lembut. Tangan inilah yang selalu membelai lembut
kepalaku. Tangan inilah yang selalu menenangkanku. Tangan ini yang membimbingku
berjalan. Eomma, wanita yang paling kucintai di dunia ini. “aku sangat menyayangi eomma. Mianhae...
jeongmal mianhae eomma. Aku selalu menyusahkanmu.”
“Yoseobie.....”
hyunseung hyung menyebut namaku pelan.
“hyung.....”
kini kugenggam tangannya, ia berusaha menolak namun dia luluh saat melihat
mataku memohon. “hyung..... mianhae, aku selalu mengganggumu selama ini. Kau
sahabt terbaikku. Gomawo... kalau appa sudah datang sampaikan maaf dan terimakasihku
padanya ya hyung. Appa sangat sibuk, dia pasti berusaha sangat keras untuk
membayar biaya pengobatanku.” Saat ini dadaku terasa sangat sakit, kugenggam
tangan mereka dan meletakannya di dada kiriku.
“yoseob...neo
gwenchana ?”
“ne.....aku
hanya mengantuk saja. Kalian temani aku disini sebentar.”
mungkin
duniaku akan berakhir saat ini. Mianhae eomma, appa, hyung. Aku sayang kalian
semua.
_________________________________________________________________
Semuanya.........
Aku rasa perjalananku sudah berakhir sampai di sini saja. Aku
senang bisa mengenal kalian selama hidup. Bagiku, kalian adalah kenikmatan
terbesar yang Tuhan berikan untukku.
Tidak ada hal terindah selain mencintai, dan aku dapatkan itu
semua saat kalian ada di sampingku.
Rasa sakit yang kurasakan ini bukanlah apa-apa justru ini yang
membuat kalian semakin dekat denganku. Karena aku selalu membutuhkan kalian.
Eomma, appa, hyunsneung hyung
Kalian adalah segalanya, tak ada kaliam yang mampu mewakili
perasaanku pada kalian. Terimakasih telah menjagaku selama ini.
Di kehidupan yang akan datang, aku harap bisa bertemu kalain lagi.
Dan akau berharap bisa menjadi lebih kuat dari pada saat ini.
Min woo, jagalah Suzy untukku. Kita teman kan ?
Suzy, makanan buatanmu sangat lezat. Aku harap bisa melihat
lukisanmu dari sana.... hehe
Yoseob

Komentar
Posting Komentar