Seseorang Yang Namanya Tak Boleh Tersebutkan
Aku selalu menyisipkan namanya dalam setiap
doaku. Menyebut namanya begitu lirih agar tak seorangpun mendengarnya. Biarlah
hanya angin yang tahu betapa besar rinduku pada Bapak. Karena tak ada tempat
bagi Bapak dalam obrolan di setiap sudut rumah ini.
#salamrindu
Sore itu
kulihat seorang lelaki separuh baya turun dari motor dan menuju rumah kami.
Sekejap aku tertegun melihat sosok itu semakin mendekati rumah dan mencapai
pintu. Kulihat dia berdiri sesaat sebelum tangannya berusaha menyentuh kenop
pintu namun diurungkan lagi. Bapak datang, ucapku lirih.
“Nggak
usah bukakan pintunya.” Mbak Lita yang datang dari arah dapur memperingatkanku
dengan nada tinggi. “Untuk apa dia datang kemari.” Katanya lagi, sebuah
pertanyaan retoris yang tak membutuhkan jawaban siapun. Aku hanya diam.
“Assalamu’alaikum……..”
Lelaki di luar pintu itu mengucap
salam dan mengetuk pintu seperti seseorang yang hendak bertamu. Dan kami
terlanjur menganggapnya sebagai orang-lain.
“Ada tamu?” Tanya mama dari dalam
kamarnya.
“Bukan siapa-siapa ma.” Jawab Mbak
Lita sembari menuju ke depan. Membuka pintu dan entah berbicara apa dengan
Bapak. Hanya sekitar lima menit sebelum kudengar pintu kembali tertutup dan
suara motor yang semakin menjauh. Berikutnya mbak Lita kembali dan masuk ke
kamar mama. Lama mereka bicara, tapi sekilas kudengar isak dari dalam ruangan
mama.
Anggap ia tak pernah datang. Begitulah
kesimpulan atas kedatangan Bapak di sore yang berwarna jingga ini. Mbak Lita tak
pernah lagi menyebut lelaki itu sebagai Bapak. Mengucapkannya berarti membuka
luka lama yang masih coba kami sembuhkan. Jika ada apotek yang memiliki obat
penyembuh luka macam ini mungkin aku akan memborongnya dan memberikan pada
mama. Diantara kami, jelas mama yang memiliki luka paling parah, paling dalam
dan paling sulit untuk disembuhkan bahkan oleh waktu sekalipun.
***
“Kenapa
Bapak datang?” Kucoba membuka obrolan dengan Mbak Lita seusai makan malam. Mama
sedang di kamar menidurkan adik bungsu kami yang masih kelas dua SD, di ruangan
ini hanya ada aku, Mbak Lita dan Mbak Ais.
“Kapan Bapak datang?” Mbak Ais yang
baru pulang ketika magrib tadi begitu terkejut mengetahui kedatangan Bapak.
“Kau tak mengizinkannya masuk lagi?” lanjutnya karena tak kunjung mendapat
jawaban dariku ataupun Mbak Lita.
“Ia bahkan tak pantas mendapat
sebutan Bapak lagi.” Jawaban yang begitu lirih terucap dari bibir Mbak Lita. Ia
begitu membenci Bapak sampai tak mau lagi menyebutnya. Ia yang paling benci ketika Bapak datang untuk menjenguk
anak-anaknya. “Lelaki itu mengkhianati kita, mengkhianati mama. Bagaimanapun ia
tak pantas mendapat sebutan sebagai Bapak lagi. Ia lebih memilih wanita itu,
janda kaya yang begitu membuatnya
tergila-gila. Apa ia masih pantas kita
sebut sebagai Bapak?” Luapan emosi yang membuncah begitu kentara dalam nada
suaranya yang semakin bergetar. Ia hampir menangis tapi ditahannya. Mbak Ais
memeluknya dengan butiran-butiran bening di kedua matanya.
Luka kembali menganga, kesedihan kembali mendera.
Aku rindu bapak, ucapku dalam hati.
Lembut tangan mama kurasakan
mengusap pundakku dari belakang. Mama mengerti perasaanku dan takkan
menyalahkannya. Bukan kemauanku memiliki rasa ini. Rindu ini datang dengan
sendirinya. Meskipun begitu aku selalu mencoba membunuhnya setiap kali rindu
ini datang. Membunuhnya ketika ia masih mengecambah adalah pilihan terbaik,
meski itu artinya aku harus menekan hatiku begitu keras.
***
Aku tak ingat
kapan terakhir kali merasakan kehangatan keluarga seperti orang lain. Aku
selalu iri dengan mereka yang memiliki keluarga lengkap-orang tua yang tinggal
satu atap dengan anak-anaknya. Bercengkrama saat makan malam, dimarahi karena
kesalahan kecil, membagi tugas setiap hari minggu. Aku rindu dengan hal-hal
semacam itu. Dan aku menyadari itu hanya sebuah impian kosong yang bisa
kusimpan di bawah bantal tapi takkan pernah terwujud.
Ketika aku masih SD, Bapak
memutuskan bekerja di Singapura sebagai TKI. Aku ingat waktu itu menangisinya
sampai berhari-hari. Setiap bulan Bapak mengirimkan uang sehingga mama bisa
membuka warung kecil untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Hari berganti hari, minggu dan tahun. Sesekali Bapak mengambil
cuti dan pulang dengan membawa banyak oleh-oleh untuk kami. Surat juga tak
pernah lupa dikirimkan. Tapi setelah beberapa tahun kemudian Bapak mulai jarang
mengirimkan surat dan yang paling parah Bapak tak pernah mengirimkan uang untuk kami. Entah ia
kemanakan uang yang selama ini ia cari. Janji untuk menghidupi kami seakan
hilang tertelan kabut laut yang membentangkan jarak maha luas.
“Memikirkan Bapak?” Suara mama membuyarkan
lamunku. Buku-buku pelajaran bertebaran di hadapanku tapi tak sedikitpun
keinginanku untuk membukanya.
“Apa aku tak boleh merindukan Bapak?”
Mama tersenyum mendengar pertanyaanku. Ia mendekat
perlahan dan duduk di kasur sebelah meja.
“Bagaimanapun ia tetap Bapakmu, karena dia kau
ada di dunia ini. Mama tak menyalahkan kalian jika membencinya. Tapi mama harap
kalian mau memaafkan kesalahan yang dilakukannya. Mama sudah memaafkan semua kesalahannya.
Tapi mama juga tak bisa melupakan kesalahannya begitu saja. Mendung ini pasti
akan berlalu Nak. Jangan pernah lupa menyebutnya dalam setiap doamu.”
Mama mengecup ujung kepalaku. Mengelusnya
dengan lembut seperti yang selalu dilakukannya setiap kali aku menangis.
Tak salah memendam rindu, tak usah menikam
hati dengan belati setiap kali rindu itu muncul.
Lyn
Komentar
Posting Komentar