Sebuah Senja Tanpa Jingga

Kau mengucapkan kalimat perpisahan di suatu senja yang tak berwarna jingga. Ada gerimis yang menari bersama angin.  Payungmu terbuka lebar menghalau angin dan butiran bening yang melayang di udara.
Hening menyapa kita, menciptakan senyap dalam kata.
Kau tak pernah mengajariku tentang perpisahan. Yang kutahu hanya sebuah sapa seperti hello, hai atau sekedar apa kabar. Lalu bagaimana aku memahami selamat tinggal yang barusan kau ucap? Aku tak terlalu pandai, kau tahu itu. Karena itu perlu waktu lama untuk mempercayai bahwa kau akan mundur dari kehidupanku.
Ah, biasanya malam minggu tak sedingin ini. Harusnya kita ada di coffee shop pinggir jalan itu sambil memperdebatkan tim sepak bola kesayangan kita. Aku yang selalu setia dengan Liverpool dan kamu yang mati-matian membela MU.

Seperti yang kau inginkan, kita berpisah dalam senja. Tapi aku akan tetap mencintai senja meski ia tanpa jingga.

Komentar