Cappuccino Dan Lelaki Yang Diantar Hujan


            Langit senja mendadak  kelabu. Dalam sekejap angin datang dan melesak ke sela-sela kain yang membungkus tubuhku. Menghadirkan hawa dingin yang membuat sebagian orang tak mau berlama lama di luar ruangan. Akupun tak mau ketinggalan, sebelum gerimis berkembang menjadi hujan lebih dulu kulangkahkan kakiku ke sebuah kedai kopi yang paling dekat.  
            Dari tempat ini aku bisa melihat gerimis itu telah berubah menjadi hujan seluruhnya. Di sebuah meja kecil dengan dua kursi di samping jendela yang menghadap keluar. Jalanan itu masih saja ramai. Bahkan ketika hujan. Mobil dan motor melaju dengan kecepatan tinggi, seakan berlomba dengan sesuatu yang tak terlihat, angin. Sepasang muda mudi berlarian sambil bergandengan, menuju emperan toko untuk berteduh. Tubuh mereka menggigil tapi seulas senyum tersemat di bibir. Mereka telah menemukan kebahagiaan yang tersembunyi di balik hujan.
            Akhirnya cappucino almond itu sampai ke mejaku. Asap yang mengepul jelas menandakan seberapa tinggi suhu cairan di dalamnya. Setidaknya inilah yang kubutuhkan di saat hujan seperti ini. Secangkir cappucino almond dan apple pie yang di nikmati di bawah derasnya hujan. Lembutnya apel, harun kayu manis dan gurihnya pie terpadu sempurna bersama aroma cappucino almond.
          
             “Naima....” Suara itu berhasil menarikku untuk tak melihat keluar jendela. Sedikit terkejut. Dia berdiri di hadapanku. Laki-laki dengan mata teduh dan senyum hangat yang selalu ku kagumi.
            “Boleh aku duduk di sini.....” Dia menujuk ke kursi kosong di hadapanku. Anggukan kepalaku menjadi jawaban untuknya.
            “Kenapa bisa sampai kesini ?” Kataku. Ah....sungguh aku merasa canggung di hadapannya. Tak tahu topik apa yang harus kubicarakan.
            “Hujan. Kebetulan aku juga ingin meminum kopi.”
            Kebetulan yang membahagiakan sekaligus mencengangkan. Aku menyesap cappucino di hadapanku, rasa almond itu teraduk rata di dalam mulut. Memberikan sensasi hangat dan lembut.
Hujan yang deras itu mengirimkannya kepadaku.
Sejenak dia sibuk dengan dirinya sendiri. Menyatukkan kedua tangan dan bergerak berlawanan arah untuk menciptakan panas alami. Rambut hitamnya  sedikit basah. Dan kemeja biru tua itu juga tak luput dari serangan hujan.
“Sedang apa kau disini ?”
“Hanya berteduh. Sama sepertimu. Aku tak ingin kehujanan sebelum sampai ke rumah.”
Satu cangkir cappucino almond kembali terhidang. Ternyata dia  memesan minuman yang sama denganku. Aku butuh waktu yang cukup lama untuk meyakinkannya bahwa cappucino juga tak kalah lezat dari american coffee yang biasa dia pesan. Waktu itu sudah berlalu cukup lama.
“Kupikir kau akan memesan american coffee ?”
Dia tersenyum. Aku mencuri pandang pada kedua bola matanya. Masih ada keteduhan disana, masih ada kehangatan yang menyertainya juga. Aku semakin menikmati tatapannya dan tanpa sadar tombol rewind itu tertekan. Teduhnya pencahayaan dan musik yang mengalun pelan meghantarkan rekaman–rekaman kehidupan yang pernah kita lalui. Bersama.
Ada aroma kebahagiaan yang menyeruak ke indra penciumanku. Menggelitik bibirku untuk sedikit menarik ujungnya ke atas. Diapun tertawa. Tawa yang sama seperti yang sering kudengar dulu. Tapi aku kembali sadar, tawa itu bukan milikku lagi. Keteduhan dan kehangatan itu juga. Semua yang ada padanya kini bukan lagi milikku.
Bagiku perasaannya padaku sama seperti hujan deras di luar sana. Pada saatnya akan berhenti juga.
Hujan di luar sana tak hendak berlalu juga. Akupun tak menghendakinya untuk segera berlalu. Biarlah tetap seperti ini. Aku ingin menikmatinya sedikit lebih lama.


Ngaliyan, 2013

Komentar